“Desa Srumbung”, sebuah potret penanganan bencana di Indonesia

Bumi Nusantara kita terletak di kawasan “Ring of Fire” gugusan pegunungan dunia. Hal ini berarti memiliki potensi bencana letusan gunung berapi dan gempa bumi yang tinggi. Salah satunya yang baru saja terjadi adalah bencana letusan gunung berapi di kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Desa Srumbung, merupakan salah satu desa di Magelang yang terkena dampak bencana merapi. Setelah sekitar 2 bulan pasca meletusnya salah satu gunung berapi teraktif di dunia ini, kondisi para korban bencana di desa ini masih tidak menentu. Meskipun suasana sudah kondusif dan para pengungsi sudah kembali ke rumah mereka setelah 2 minggu mengungsi, namun tetap saja banyak permasalahan yang belum teratasi. Permasalahan ekonomi misalnya, sampai saat ini mereka masih tergantung dari logistik yang diberikan oleh pemerintah dan relawan. “Kami diberi jatah logistik untuk 2 bulan ke depan”, ujar seorang warga desa.

Menurut informasi warga, hampir 90% masyarakat Desa Srumbung berprofesi sebagai petani salak. Hanya sedikit dari mereka yang bekerja sebagai buruh ataupun guru di sekolah-sekolah di desa tersebut. Padahal, akibat abu dari letusan Merapi, kondisi lahan pertanian mereka rusak parah. Dari hasil temuan di lapangan oleh penulis, meskipun hanya sedikit tanaman salak masyarakat yang mati, namun untuk bisa kembali berbuah lagi membutuhkan waktu paling cepat sekitar 1 hingga 2 tahun lagi. Hingga akhirnya muncul pertanyaan: “Bagaimana mereka mencukupi kebutuhan harian mereka, menyekolahkan anak-anak mereka selama tenggat waktu itu?”

Dalam praktek penanganan bencana di Indonesia, sering kali terabaikan penanganan jangka panjangnya. Saat sebuah bencana baru saja terjadi, masyarakat dengan latah berbondong-bondong mengirimkan berbagai bantuan baik berupa logistik makanan, pakaian bekas, ataupun tenaga sebagai relawan hingga mencapai jumlah yang luar biasa. Hampir bisa dipastikan kemudian bantuan ini menumpuk (beberapa ada yang tidak efektif, tidak tepat sasaran, ataupun yang menjadi “busuk”) di posko-posko bencana.

Bantuan seperti itu memang sangat membantu para korban, bahkan mungkin sangat dibutuhkan. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah, bantuan-bantuan ini sifatnya jangka pendek atau sementara. Bantuan jangka panjang seperti trauma healing, pemberian pekerjaan ataupun skill tambahan kepada para korban setelah kondisi lingkungan sekitar daerah bencana kondusif acap kali terlewatkan. Padahal dalam pelaksanaannya, kedua jenis bantuan (jangka pendek dan jangka panjang) tersebut haruslah diberikan dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga ketika ketika korban harus direlokasi ke tempat asal mereka, mereka bisa tetap bisa mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tanpa harus terus tergantung kepada bantuan logistik. (Bcb/ L289)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *