Sebuah “empati” berorganisasi

Saat ini pengekangan terhadap kebebasan berpikir dan berorganisasi terjadi di sekitar kita. Banyak sebagian dari kita yang merasakan tidak terakomodir kebebasan berpikir dan berorganisasinya ketika berada dalam organisasi yang diikutinya atau yang sebelumnya telah menjadi bagian darinya. Sebagian itu kemudian memilih keluar dan mendirikan organisasi dan komunitas baru.
Tujuan sebenarnya sangat sederhana, ia ingin terakomodasi…! Ia tidak ingin idealisme dan kebebasan berpikirnya dikekang dan dibunuh oleh aturan ataupun doktrin, yang menurutnya tidak sejalan dengan idealismenya.
Disinilah sebenarnya posisi diskusi dan kompromi menjadi penting. Sharing dan pertukaran pandangan pemikiran dapat terjadi. Lebih dari itu, proses evaluasi terhadap berbagai hal dapat dilakukan dengan lebih baik karena dari berbagai perspektif yang berbeda. Namun, kerap kali dengan berbagai bentuk, proses diskusi ini dimentahkan. Bentuk yang sering digunakan adalah senioritas dengan dalih senior yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih (kalau umur lebih tua pasti!,padahal kalau pengalaman belum tentu lho..). Meskipun memang senioritas bukan sesuatu yang selalu salah, namun hanya sering disalahgunakan.
Pun begitu dengan aturan. Terkadang kita sendiri lupa, pada awalnya untuk apa aturan itu dibuat? Dan untuk siapa? Kita semua seorang manusia, bukan robot!. Kita hidup dengan ke-manusia-an kita. Memang ada nilai bersama yang menjadi kesepakatan bersama (salah satunya aturan), namun ketika aturan dirasa tidak sesuai, tidak ada salahnya untuk menyesuaikannya sepanjang menjadi kesepakatan bersama.
Maka dari itu, mengapa kita mengekang keinginan orang lain untuk membentuk komunitas atau organisasi….?????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *