“Privatisasi Air”, setuju atau tidak…?

Bergas289 | Privatisasi atau denasionalisasi adalah proses pengalihan kepemilikan sebagian atau keseluruhan suatu aset dari milik umum/ publik, menjadi milik swasta/ pribadi. Secara teori, privatisasi merupakan tempat tumbuh suburnya kompetisi kapitalis. Privatisasi dapat berlaku pada berbagai aset barang ataupun jasa, termasuk air.

Bagi para pendukung ekonomi kapitalis, privatisasi air dipandang sebagai cara yang paling pantas dalam mengatasi persoalan sulitnya mengakses air bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin untuk memperoleh air bersih. Selain itu, privatisasi air dianggap akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi layanan penyediaan air yang selama ini dikelola sektor publik.

Sedangkan bagi pendukung ekonomi sosialis, privatisasi air hanya berorientasi pada profit bagi para pemegang hak privat atas air tersebut. Tidak sepantasnya air yang merupakan kebutuhan dasar manusia dijadikan barang dagangan yang melibatkan sektor swasta dalam pengelolaan dan penyediaannya. Air merupakan sumber penghidupan, bukan sumber penghasilan.

Dalam berbagai kasus terkait privatisasi air, terutama privatiasasi kawasan sumber mata air, yang airnya digunakan sebagai bahan baku industri air minum dalam kemasan, seringkali menurunkan kualitas dan kuantitas ketersediaan air terebut di tempat dimana air tersebut berasal. Dampaknya terhadap sektor pertanian, misalnya  sawah-sawah kekurangan air untuk irigasi, sehingga mengancam hasil panen. Salah satu kasusnya dapat dilihat di http://www.spi.or.id/?p=789

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri privatisasi air memberikan efektifitas dan efisiensi terhadap distribusi air bagi daerah-daerah miskin air, terutama distribusi air bersih untuk minum. Berbagai permasalahan seperti birokrasi, regulasi, maupun sistem distribusi sektor publik yang dikelola oleh pemerintah acap kali menjadi sumber inefektifitas dan  inefisiensi distribusi air di berbagai daerah miskin air.

Permasalahan ini, dimata penulis tidak hanya terjadi secara nasional, namun juga secara global. Hal ini terkait tema Hari Air Sedunia tahun 2011, “Water for Cities, Responding to The Urban Challenge” (Air untuk kota-kota, menghadapi tantangan urban) yang berarti bahwa tingkat kebutuhan air di daerah-daerah urban yang merupakan daerah perkotaan sangat tinggi, sedangkan ketersediaan airnya, terutama air bersih sangat rendah. Oleh karena itu, sangat diperlukan mekanisme penyediaan air melalui distribusi dari daerah-daerah yang kaya akan air, dimana pada umumnya daerah kaya ini merupakan daerah pedesaan yang memiliki banyak ladang atau sawah yang juga membutuhkan jumlah ketersediaan air tertentu.

Sehingga kemudian timbul pertanyaan, salahkah “privatisasi air”….?

*(Sebuah perenungan memperingati Hari Air Sedunia-22 Maret 2011)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *