Menanam Harapan Untuk Merapi

Bergas289 | Bencana erupsi yang terjadi pada Oktober 2010 silam, telah memporak-porandakan ekosistem hutan di gunung Merapi, gunung yang terletak di provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut Sekretaris Dinas Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kardina, yang dilansir Republika, setidaknya 867 hektar kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Merapi rusak setelah diterjang awan panas dan material vulkanik. Akibatnya, kini lereng Merapi menjadi daerah yang gersang, minim ketersediaan air tanah, dan rawan bencana lahar dingin ketika hujan turun.

Sejatinya, ekosistem yang rusak itu dapat kembali seperti sedia kala melalui proses suksesi secara alami, artinya dengan dibiarkan saja, tanpa campur tangan manusia. Namun itu membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Yang sudah (pengalaman),  Gunung Krakatau itu 400 tahun baru suksesi ada pohon”, kata Dadan Mulyana, S.Hut., M.Si, dosen pengajar dan peneliti di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Selama proses suksesi belum selesai atau mencapai klimaks, maka selama itu pula lereng Merapi menjadi daerah yang miskin air tanah dan terancam bencana lahar dingin, karena air hujan yang jatuh tidak terserap ke dalam tanah dengan baik, sehingga menjadi limpasan permukaan yang mengalir deras membawa material di permukaan tanah.

Tanggap akan kondisi tersebut, maka berbagai elemen masyarakat yang terdiri dari relawan, aktivis, dan penduduk sekitar, baik secara individu maupun secara lembaga beramai-ramai melakukan penanaman bibit pohon, sebagai upaya untuk mempercepat proses suksesi di lereng Gunung Merapi. Salah satu wujudnya adalah dibentuknya Konsorsium PALM (Penghijauan Area Lereng Merapi) yang sudah menanam puluhan ribu pohon sejak Januari 2011.

“Butuh aksi agar Merapi segera hijau”, kata Bambang Sugeng, anggota Komite Rakyat Lereng Merapi (KLRM), salah satu anggota konsorsium PALM.

Lokasi penanaman meliputi tiga desa di lereng Merapi, yaitu Desa Umbulharjo, Desa Kepuharjo, dan Desa Glagaharjo. Ketiga desa tersebut terletak di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jenis pohon yang ditanam meliputi pohon kayu dan pohon buah, diantaranya mahoni, sengon, jabon, trembesi, durian, sawo kecik, manggis, alpukat. Sementara itu juga ada tanaman bukan pohon seperti kelapa dan pisang.

Infus dan Teknologi Aqua-sorb

Inisiatif masyarakat untuk menghijaukan kembali kawasan lereng Merapi bukannya tidak mengalami kendala. Ulat muncul menjadi hama dengan memakan dedaunan dari bibit pohon yang telah ditanam setelah predator alaminya, yakni burung dan kelelawar menghilang dari kawasan Merapi akibat hilangnya pepohonan sebagai habitat tempat tinggal mereka.

Mengatasi hal ini Bambang, sebagai koordinator penanaman menyertakan bibit pohon buah seperti talok (kersen), manggis, sawo kecik, durian, dan alpukat untuk ikut ditanam beserta bibit pohon lainnya.

Sementara itu, musim kemarau dan lahan yang kering menjadi ancaman lain.

“Kendala utama, kan mulai Bulan Juni sudah gak ada hujan”, kata Bambang.

Saat ini, menurut Bambang, bibit pohon yang telah ditanam dalam kondisi kritis karena krisis air, sehingga perlu dipikirkan cara agar tanaman yang telah ditanam dapat bertahan hidup.

Apabila sebelumnya masyarakat membuat blumbang/ kolam untuk menampung air hujan agar dapat digunakan sebagai sumber air untuk menyirami tanaman, maka dengan datangnya musim kemarau, Bambang memiliki inisiatif untuk membuat infus tanaman.

Infus ini terbuat dari botol plastik bekas yang dilubangi bagian bawahnya, dan diberi benang agar air mengalir dari infus menuju akar tanaman melalui benang tersebut, dengan prinsip kapilaritas.

Dengan infus tersebut, menurut Bambang, tanaman dapat bertahan hingga seminggu tanpa disirami. Hingga saat ini, sejak Juni lalu proses penanaman di lereng Merapi dihentikan sementara, dan diganti dengan kegiatan pemberian infus bagi pohon yang telah ditanam.

Terkait dengan penggunaan teknologi infus ini, Dadan Mulyana, dosen dan peneliti di Fakultas Kehutanan IPB, saat ditemui di Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB menyampaikan, bahwa selain menggunakan infus buatan, untuk membantu suksesnya penanaman juga perlu memakai teknologi “Aqua-sorb” dengan menggunakan hidrogel. Hidrogel merupakan media tanam bukan tanah yang biasa digunakan untuk menanam hidroponik.

Menurut Dadan, media tanam ini sangat penting, mengingat saat ini permukaan tanah tertutup abu vulkanik yang cukup tebal, sehingga akar tanam tidak dapat menyerap unsur hara dari tanah.

“Tidak ada artinya infus, jika media tidak dibenahi. Karena debu gunung api baru (selama) tiga tahun akan turun keasamannya, secara berangsur-angsur. Harus ada campur tangan manusia dan teknologi”, pungkas Dadan.

Jenis Endemik

Sebuah fenomena menarik ditemui di kawasan lereng Gunung Merapi. Ketika bencana erupsi berakhir, dan disaat masyarakat berbondong-bondong mengupayakan penghijauan di kawasan gunung tersebut, ada sebuah jenis yang secara alami tumbuh subur menjadi pionir bagi tumbuhan yang lainnya. Adalah Akasia dicurrent atau yang oleh penduduk sekitar disebut “Sogo Pedhut”.

Menurut Bambang, jika diibaratkan sebagai makhluk hidup, Gunung Merapi secara alami menumbuhi dirinya sendiri, yakni dengan Sogo Pedhut ini. Tumbuhan ini tanpa disirami dapat tumbuh diantara bebatuan dan pasir di kawasan Merapi.

Senada dengan Bambang, Dadan Mulyana juga membenarkan bahwa jenis Akasia dicurrent merupakan jenis pionir yang dapat tumbuh di kondisi lingkungan seperti di Gunung Merapi.

“Ini (Akasia dicurrent) pionir asli, yang (sebaiknya) dibikin persemaiannya, lalu ditanam duluan”, pungkas Dadan.

Lebih lanjut Dadan menjelaskan, bahwa karena Sogo Pedhut  ini termasuk ke dalam legum (famili Leguminaceae), maka mampu mengikat nitrogen dalam tanah dan menyuburkan tanah, sehingga membantu tumbuhan di sekitarnya untuk tumbuh dengan subur.

*Tulisan ini dibuat ketika Pelatihan Jurnalisme Lingkungan – SIEJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *