Tetaplah Bersatu Indonesia-ku

Bergas289 | Indonesia merupakan Negara kesatuan yang terletak sangat strategis secara geografi. Berada di antara benua Asia dan Australia, serta antara Samudra Pasifif dan Samudra Atlantik, sehingga merupakan jalur lalu lintas internasional. Jika dilihat secara sepintas, memang ini adalah keuntungan yang luar biasa. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya  ancaman terbesar terhadap kesatuan NKRI justru timbul dari sini.

Masih ingatkah tentang Timor Leste yang melepaskan diri dari NKRI? Tentang “Gerakan Aceh Merdeka”? Papua yang (juga) menginginkan merdeka?

Mungkin saja memang alasan mereka untuk melepaskan diri dari NKRI, karena ketidak puasan  terhadap sistem pemerintahan pusat. Atau mungkin ambisi beberapa tokoh. Tapi, pernahkah terpikir adanya “campur tangan” pihak asing?

Pemikiran ini bukan tanpa alasan, karena dengan memecah belah NKRI, maka tidak aka nada lagi kedaulatan wilayah, baik perairan maupun udara. Dengan begitu, Negara-negara yang memiliki jalur lalu lintas di langit dan perairan Indonesia tidak perlu “membayar” kepada Indonesia. Terlebih lagi jika wilayah-wilayah tersebut jatuh ke tangan mereka, tentu mereka “sangat senang”!

Masih ingatkah siapa yang mem”beking” Timor Leste hingga saat ini? Pernah terpikirkan alasan mereka mau “repot-repot” melakukan itu??

Jika menilik masa lalu, saat setelah Agresi Militer Belanda ke-2 dan ketika sebelum konferensi Meja Bundar yang menetapkan secara “de jure” kemerdekaan Negara Indonesia dan wilayahnya, Belanda menawarkan “Negara-negara Boneka” sebagai RIS (Republik Indonesia Serikat). Tujuannya sangat jelas, MEMECAH KESATUAN REPUBLIK INDONESIA! Dan tawaran itu jelas DITOLAK oleh pemimpin Negara kita, karena mereka sadar, dengan menjadi Negara serikat, persatuan dan kesatuan bangsa ini sangat mudah dipecah belah.

Sebagai refleksi, bagaimana kondisi Negara kita saat ini?

Otonomi Daerah atau desentralisasi memberikan “kewenangan” yang lebih besar kepada pemerintah Daerah untuk membuat dan menetapkan kebijakan terkait daerahnya masing-masing. Memang ada baiknya karena tiap-tiap daerah dapat lebih leluasa menentukan apa yang terbaik baginya. Namun, sekali lagi ada ancaman besar disini.

Permainan “level atas” di tingkat lokal (daerah) terkadang dapat membuat “abu-abu” ke bijakan. Tidak sedikit kebijakan yang tumpang tindih.Ataupun yang tidak sinkron dengan pusat. Bahkan yang “gontok-gontokan” dengan daerah “tetangga”. Aset dan sumberdaya alam begitu mudah “diperjual-belikan”. Jika sudah begini, masihkah “Negara Kesatuan Republik Indonesia?”

* By Bergas289 – 8 Januari 2011, 22:44 WIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *